Istimewanya Menjadi Perempuan
Menjadi wanita memang sebuah anugerah. Kita terlahir tiga kali di dunia ini.
Pertama lahir sebagai seorang anak, kedua lahir sebagai seorang istri, dan ketiga kita lahir menjadi seorang ibu. Hebat, bukan? Itu tanda betapa Yang Maha Agung mencintai kaum wanita. Kita diberikan tiga jalan untuk menggapai ridho-Nya.
Aku masih di tahap pertama. Aku hanya baru lahir sebagai sebagai seorang anak perempuan. Anak perempuan yang punya cita-cita besar tapi harus rela berhenti berusaha demi menemani orang tua yang sudah berumur senja. Anak perempuan yang awalnya pendiam dan tidak tahu caranya mengungkapkan perasaan, akhirnya belajar banyak hal setelah merawat kedua orang tuanya. Anak perempuan yang punya semangat tinggi untuk belajar tapi memilih fokus untuk memerhatikan setiap gerak-gerik orang tuanya yang mulai pelupa. Anak perempuan yang memilih menghabiskan waktunya untuk memahami dan memaklumi setiap tingkah orang tuanya sampai akhir. Anak perempuan yang belum sempat dinikahkan oleh ayahnya. Anak perempuan yang belum sempat mengenalkan menantu terbaik kepada orang tuanya. Anak perempuan yang juga paling merasa kehilangan ketika kedua orang tuanya berpulang selamanya. Aku memang masih di tahap pertama, menjadi anak perempuan yang memutuskan untuk memberikan setiap waktu dan kasih sayang sampai akhir. Setiap perjalanan menjadi anak perempuan tentu tidak mudah. Banyak tantangan perihal emosi yang sangat sulit untuk diungkapkan, dimana aku harus belajar untuk menekan ego demi menjaga perasaan mereka, belajar menjadi pribadi yang ceria agar mereka tetap bahagia meski sakit secara fisik. Menjadi anak perempuan tidak selalu menyenangkan, tapi aku sangat bahagia atas keputusan yang telah aku ambil waktu itu. Aku punya banyak kesempatan untuk belajar dan mengejar mimpi, tapi kesempatan untuk merawat dan membahagiakan orang tua tentu tidak datang dua kali.
Ada satu hal yang selalu aku lakukan sebelum menentukan pilihan. Memikirkan konsesi yang akan diterima atas apa yang telah diputuskan. Aku sadar bahwa setiap pilihan selalu memiliki konsekuensi baik dan buruk. Untuk itu aku perlu menyiapkan hati untuk menerima setiap harapan yang barangkali tidak sesuai dengan kenyataan. Menerima setiap hal buruk yang mungkin tidak terduga. Iya, aku hanya perlu kelapangan hati untuk menerima bagaimana pun kenyataannya nanti, baik atau pun buruk, aku harus siap.
Termasuk keputusanku untuk sendiri dulu pasca kepergian orang tua. Menurutku menikah bukanlah hal yang perlu dilakukan dengan keputusan tergesa-gesa, melainkan harus disiapkan dengan matang. Aku harus siap secara fisik dan juga mental. Karena menikah adalah proses ibadah terpanjang di dunia ini, dimana aku harus rela hidup bersama seseorang yang telah aku pilih sebagai takdirku. Menjalani setiap waktu dengan lelaki yang rela juga menjadi penanggungjawab atas hidupku di dunia dan akhirat kelak. Menikah juga tentang kesanggupanku menerima kekurangannya dan kelapangannya menerima keburukanku. Menikah bukan hanya tentang aku, tapi juga tentang dia yang pada saatnya nanti akan menjadi kita.
Itulah kenapa aku memilih sendiri dulu. Ada hal-hal yang ingin aku siapkan sebelum menempuh perjalanan ibadah terpanjang. Ada mimpi-mimpi yang ingin aku raih dulu, sebelum akhirnya nanti aku mengusahakan mimpi-mimpi kami dalam rumah tangga. Ada banyak hal yang ingin aku capai dengan usahaku sendiri tanpa melibatkan seseorang, sebelum akhirnya nanti aku akan fokus pada keinginan kami bersama.
Namun, rupanya banyak orang yang menentang bahkan mencibir keputusanku ini. Keputusan yang mungkin menurut mereka tidak penting dan tidak perlu untuk dipilih. Tapi ini tentang hidupku, bukan? Jadi akulah yang lebih berhak atas setiap keputusan yang aku ambil. Toh, pada akhirnya aku pulalah yang menanggung konsekuensi atas keputusan itu. Aku tidak perlu memikirkan perkataan mereka yang menggoyahkan, justru aku harus berbangga karena itu artinya keputusan yang aku ambil memang punya risiko yang dianggap besar.
Aku maklum, tidak semua orang akan paham terhadap setiap yang aku ambil. Padahal keputusan untuk sendiri dulu itu karena aku ingin belajar lagi bagaimana caranya menjadi wanita yang makin lapang hatinya, besar penerimaannya, luas maafnya, dan makin baik dalam memperlakukan orang lain. Belajar tentang lapang memang tidak ada habisnya, bahkan butuh seumur hidup, tapi aku hanya ingin jeda waktu sebelum akhirnya nanti menghadapi konsekuensi terburuk dari pilihanku sendiri.
Jadi, aku memang masih di tahap pertama. Memutuskan masih menjadi anak perempuan sebelum akhirnya menjadi istri bagi seseorang yang sudah ditakdirkan.
Komentar
Posting Komentar